TUGAS
TEKNOLOGI INFORMASI SENI
Oleh :
TEKNOLOGI INFORMASI SENI
Oleh :
Nama : I PUTU SURYADARMA
MADE RATNAWATI (201421004)
MADE RATNAWATI (201421004)
Pengkajian Seni
Pasca Sarjana
Institut Seni Indonesia
Institut Seni Indonesia
2015
1.
JUDUL
KARYA TARI “CAK BANDAR”
Alasan
memakai judul Cak Bandar : Karena kata-kata Cak Bandar sering diucapkan oleh masyarakat Bali saat
melakukan perjudian dan pada saat itu mereka sedang mengalami kekalahan yang
sangat banyak. Jadi kata Cak Bandar berarti kata-kata kekalahan untuk para
pejudi dan para Bandar (orang yang mengadakan perjudian )
2.
SINOPSIS
TARI
Dikisahkan
dengan kembalinya kebiasaan buruk Manik Angkeran, selalu mencari celah untuk
menghilangkan kebosannannya. Dengan mengetahui kalau ayahnya Mpu Sidi Mantra
mau meninggalkan pedepokan untuk membasmi wabah penyakit di Selatan Daha yang
minta oleh suatu Kerajaan.
Manik
Angkeran bersama teman-temannya yang bernama Surya, Bomantara,Palguna dan Jaka
Senggara telah memiliki rencana untuk mengilangkan kebosannannya itu sendiri
yaitu dengan kembali dengan sifatnya yang seperti dulu yaitu berjudi. Suatu
saat Manik Angkeran bersama temannya yang lain mendengar adanya pusat perjudian
di desa Wangon, disana ada judi dengan permainan dadu dengan taruhan yang
sangat besar yang mana di dalangi oleh Ki bondan, keesokan harinya Manik
Angkeran datang langsung ke tempat perjudian tersebut dengan membawa sebagian
harta dari ayahnya untuk sebagai taruhan di dalam perjudian dadu tersebut semua
orang telah berkumpul untuk mengikuti perjudian tersebut, akhirnya Manik
Angkeran memasang taruhan di dalam judi dadu tersebut, dengan memasang angka no
3 terlebih dahulu akhirnya Manik Angkeran menang pertama kali mulai perjudian,
dan mendapakan harta yang sangat banyak dari semua pemain judi.
Keesokan
harinya Manik Angkeran mulai melanjutkan perjudian tersebut dengan memasang no
6 untuk pertama kalinya karena menurut Manik Angkeran no 6 sebagai no
keberuntungan salanjutnya perjudian pun
dimulai akhirnya no 6 itu ternya membawa sial untuk Manik Angkeran karena no
yang muncul bukan no 6 tetapi no lain semua harta Manik Angkeran terkuras abis
tanpa ada sisa, maka pada saat itu Manik Angkeran memutuskan untuk berhenti
bermain judi untuk hari ini saja, dan melanjutkan kembali perjudiannya hingga
Manik Angkeran mempunyai hartanya kembali.
Akhirnya Manik
Angkeran kembali pulang dan tiba tiba Manik Angkeran melihat kamar dari ayahnya
sendiri Mpu Sidhi Mantra terbuka lebar dan melihat perhiasan dan sebagaian
harta dari ayahnya berada di dalam kamarnya. Kemudian Manik Angkeran mempunyai
akal licik untuk mengambil semua harta ayahnya sendri, namun saat Manik
Angkeran beranjak masuk ke dalam kamar ayahnya tiba tiba teman-teman Manik
Angkeran memergokinnya saat Manik Angkeran mengambil harta, akhirnya pada saat
itu terjadilah keributan Manik Angkeran dengan teman-temannya yang dimana niat
teman-temanya hanya ingin melarang Manik Angkeran untuk berjudi kembali dan
mengambil harta ayahnya sendiri, saat itu terjadilah perkelahian Ma nik
Angkeran dengan teman-temannya, akhirnya Manik Angkeran mengaku kalah dengan
teman-temanya karena dibalik semua itu Manik Angkeran mempunyai cara yang lebih
licik untuk mengambil harta ayahnya. Dan akhirnya Manik Angkeran ditinggal
pergi oleh teman-temannya tersebut karena mereka puas ternyata Manik Angkeran
dapat digertak begitu saja..
Alasan : Karena cerita
ini mengacu kapada garapan tari kerakyatan, sehingga cerita yang diangkat adalah cerita
rakyat.
3. INSPIRASI
Saat
melihat perjudian dadu kocok,saat ada upacara adat di Pura, dan terinspirasi
dari film dewa judi yang sering ditayangkan di televisi yang dibawakan Oleh
Steven Cao, yang dimana perjudian dadu sangat unik dan seru walupun judi itu
dilarang.
4. KONSEP
TARI
Tari Kreasi Inovatif (
Tari Rakyat )
Alasannya: Karena ingin
mengadakan sesuatu yang baru dan pengembangan didalam garapan tari kerakyatan dimana ingin mengacu ke sifat unsur komedi dan imbauan kepada masyarakat.
5. BENTUK
GARAPAN
( Kelompok) Tediri dari
5 orang penari laki-laki.
Alasannya : karena
terdiri dari beberapa peran tokoh di dalam garapan tari tersebut.
6. TEMA
Kerakyatan mengacu
kepada Kehidupan Sosial
7. KOSTUM
Udeng kreasi, Baju
seperempat warna Biru atau merah, bervariasi batik coklat, kain kamen prada dan
beberapa kain dengan corak warna yang berbeda- beda, dan memakai celana pendek.
8. IRINGAN
Perpaduan alat-alat
gambelan tradisi dan Budaya liar ( seperti alat musik yang tidak diakui sebagai
alat musik, sehingga menghasilkan suasana yang sangat unik,)
9. PROPERTY
Dadu dan berbagai
property lainnya seperti tembok terbuat dari gabus, gubuk kecil,dan memakai
trap
Alasan : untuk mendukung suasana perjudian. Konsepsi
seni sebagai kreasi dari bentuk ekspresi yang menyampaikan cita perasaan ( atau
apa yang kadang-kadang disebut “ kehidupan batiniah, “ “ realitas subjektif, “
“ kesadaran “.
Pada
dasarnya bahwa semua manusia yang dilahirkan di dunia ini memiliki potensi sigug karena boleh dikata bahwa sigug
tersebut adalah sifat dasar manusia, yang dipengaruhi lagi oleh apa yang
disebut dengan tri guna yang terdiri dari satwam, rajas, dan tamas. Satwam
adalah sifat yang akan mempengaruhi kearah yang baik, tenang, jujur, atau
mengarah ke sifat kebaikan atau kedewataan. Rajas adalah sifat yang mengarah
kepada nafsu, bergairah, ambisi, panas hati, dan keinginan-keinginan yang
sifatnya keras. Sebagai suatu karakter atau sifat, maka sigug mungkin dapat dianalogkan dengan kata singkuh ( Bahasa Bali ) yang berarti sukar atau sulit. Karena
kalau kita amati lebih seksama mengenai apa yang dikatakan orang sebagai
karakter sigug, pada umumnya memiliki cirri sebagai berikut : 1 ) sukar untuk
menerima pendapat orang lain. 2 ) sukar untuk memanfaatkan atas kesalahan orang
lain. 3 ) sukar menerima atau mengakui keberhasilan atau kesuksesan orang lain.
Tiga hal tersebut yang sangat domain dalam dalam karakter orang-orang yang dikatakan
sigug. Ketika hal tersebut di atas tampaknya
didasari atas benih-benih pada diri manusia seperti kemarahan, dendam, mudah
tersinggung, loba, dengki, iri hati, kebinguan, atau kebodohan, kegelapan atau
kemabukan terhadap sesuatu, dan lain-lain.
Pada
jaman ini juga dipenuhi dengan kemunafikan, serta orang-orang yang
bersandiwara. Mereka memerankan peranan yang palsu. Orang jahat berlagak mulia,
menyumbang ke sana kemari dengan menggunakan uang hasil kejahatan. Di antara
sesama mereka saling menghina, dan mengatakan diri masing-masing atau
kelompoknya yang paling berharga, paling pandai, atau paling terhormat.
Sigug
dalam dimensi ajaran susila adalah perwujudan dari apa yang terkandung dalam sadripu dan sapta timira. Sad ripu
adalah enam macam musuh dyang bersumber dari diri masing-masing, yang terdiri
dari kroda ( pemarah ), moha ( bingung, bodoh ), mada ( mabuk ), loba ( serakah ), kama (
nafsu ), dan matsarya ( iri hati ).
Sedangkan sapta timira adalah tujuh
macam kegelapan yang dialami manusia yakni dana
( gelap karena kekayaan ), surupa (
gelap karena memiliki rupa yang tampan atau cantik ), guna ( gelap karena memiliki kepandaian ), kulina ( gelap karena merasa keturunan bangsawan atau orang
terkemuka ), yowana ( gelap karena
merasa diri muda atau remaja ), sura
( gelap karena pengaruh minuman keras atau sesuatu yang memabukan ), kasuruan ( kegelapan yang ditimbulkan
akibat mendapat kemenangan atau keberhasilan tertentu ).
Demikianlah karya tari Cak Bandar semoga bisa memberi apresiasi tentang karya tari kreasi baru dan bisa menjadi acuan atau refrensi bagi penata tari baru dalam berkarya tari.