Selasa, 17 November 2015

CAK BANDAR

TUGAS
TEKNOLOGI INFORMASI SENI


Oleh :

Nama    : I PUTU SURYADARMA

                           MADE RATNAWATI (201421004)


Pengkajian Seni 
Pasca Sarjana
Institut Seni Indonesia
2015



1.      JUDUL KARYA TARI  “CAK BANDAR

Alasan memakai judul Cak Bandar : Karena kata-kata Cak Bandar  sering diucapkan oleh masyarakat Bali saat melakukan perjudian dan pada saat itu mereka sedang mengalami kekalahan yang sangat banyak. Jadi kata Cak Bandar berarti kata-kata kekalahan untuk para pejudi dan para Bandar (orang yang mengadakan perjudian )


2.      SINOPSIS TARI

Dikisahkan dengan kembalinya kebiasaan buruk Manik Angkeran, selalu mencari celah untuk menghilangkan kebosannannya. Dengan mengetahui kalau ayahnya Mpu Sidi Mantra mau meninggalkan pedepokan untuk membasmi wabah penyakit di Selatan Daha yang minta oleh suatu Kerajaan.
Manik Angkeran bersama teman-temannya yang bernama Surya, Bomantara,Palguna dan Jaka Senggara telah memiliki rencana untuk mengilangkan kebosannannya itu sendiri yaitu dengan kembali dengan sifatnya yang seperti dulu yaitu berjudi. Suatu saat Manik Angkeran bersama temannya yang lain mendengar adanya pusat perjudian di desa Wangon, disana ada judi dengan permainan dadu dengan taruhan yang sangat besar yang mana di dalangi oleh Ki bondan, keesokan harinya Manik Angkeran datang langsung ke tempat perjudian tersebut dengan membawa sebagian harta dari ayahnya untuk sebagai taruhan di dalam perjudian dadu tersebut semua orang telah berkumpul untuk mengikuti perjudian tersebut, akhirnya Manik Angkeran memasang taruhan di dalam judi dadu tersebut, dengan memasang angka no 3 terlebih dahulu akhirnya Manik Angkeran menang pertama kali mulai perjudian, dan mendapakan harta yang sangat banyak dari semua pemain judi.
Keesokan harinya Manik Angkeran mulai melanjutkan perjudian tersebut dengan memasang no 6 untuk pertama kalinya karena menurut Manik Angkeran no 6 sebagai no keberuntungan  salanjutnya perjudian pun dimulai akhirnya no 6 itu ternya membawa sial untuk Manik Angkeran karena no yang muncul bukan no 6 tetapi no lain semua harta Manik Angkeran terkuras abis tanpa ada sisa, maka pada saat itu Manik Angkeran memutuskan untuk berhenti bermain judi untuk hari ini saja, dan melanjutkan kembali perjudiannya hingga Manik Angkeran mempunyai hartanya kembali.
Akhirnya Manik Angkeran kembali pulang dan tiba tiba Manik Angkeran melihat kamar dari ayahnya sendiri Mpu Sidhi Mantra terbuka lebar dan melihat perhiasan dan sebagaian harta dari ayahnya berada di dalam kamarnya. Kemudian Manik Angkeran mempunyai akal licik untuk mengambil semua harta ayahnya sendri, namun saat Manik Angkeran beranjak masuk ke dalam kamar ayahnya tiba tiba teman-teman Manik Angkeran memergokinnya saat Manik Angkeran mengambil harta, akhirnya pada saat itu terjadilah keributan Manik Angkeran dengan teman-temannya yang dimana niat teman-temanya hanya ingin melarang Manik Angkeran untuk berjudi kembali dan mengambil harta ayahnya sendiri, saat itu terjadilah perkelahian Ma nik Angkeran dengan teman-temannya, akhirnya Manik Angkeran mengaku kalah dengan teman-temanya karena dibalik semua itu Manik Angkeran mempunyai cara yang lebih licik untuk mengambil harta ayahnya. Dan akhirnya Manik Angkeran ditinggal pergi oleh teman-temannya tersebut karena mereka puas ternyata Manik Angkeran dapat digertak begitu saja..
Alasan : Karena cerita ini mengacu kapada garapan tari kerakyatan,  sehingga cerita yang diangkat adalah cerita rakyat.

3.      INSPIRASI

Saat melihat perjudian dadu kocok,saat ada upacara adat di Pura, dan terinspirasi dari film dewa judi yang sering ditayangkan di televisi yang dibawakan Oleh Steven Cao, yang dimana perjudian dadu sangat unik dan seru walupun judi itu dilarang.

4.      KONSEP TARI

Tari Kreasi Inovatif ( Tari Rakyat )
Alasannya: Karena ingin mengadakan sesuatu yang baru dan pengembangan didalam garapan tari kerakyatan dimana ingin mengacu ke sifat unsur komedi dan imbauan kepada masyarakat.

5.      BENTUK GARAPAN

( Kelompok) Tediri dari 5 orang penari laki-laki.
Alasannya : karena terdiri dari beberapa peran tokoh di dalam garapan tari tersebut.

6.      TEMA

Kerakyatan mengacu kepada Kehidupan Sosial

7.      KOSTUM
Udeng kreasi, Baju seperempat warna Biru atau merah, bervariasi batik coklat, kain kamen prada dan beberapa kain dengan corak warna yang berbeda- beda, dan memakai celana pendek.


8.      IRINGAN

Perpaduan alat-alat gambelan tradisi dan Budaya liar ( seperti alat musik yang tidak diakui sebagai alat musik, sehingga menghasilkan suasana yang sangat unik,)

9.      PROPERTY

Dadu dan berbagai property lainnya seperti tembok terbuat dari gabus, gubuk kecil,dan memakai trap
Alasan : untuk mendukung suasana perjudian. Konsepsi seni sebagai kreasi dari bentuk ekspresi yang menyampaikan cita perasaan ( atau apa yang kadang-kadang disebut “ kehidupan batiniah, “ “ realitas subjektif, “ “ kesadaran “.


Pada dasarnya bahwa semua manusia yang dilahirkan di dunia ini memiliki potensi sigug karena boleh dikata bahwa sigug tersebut adalah sifat dasar manusia, yang dipengaruhi lagi oleh apa yang disebut dengan tri guna yang terdiri dari satwam, rajas, dan tamas. Satwam adalah sifat yang akan mempengaruhi kearah yang baik, tenang, jujur, atau mengarah ke sifat kebaikan atau kedewataan. Rajas adalah sifat yang mengarah kepada nafsu, bergairah, ambisi, panas hati, dan keinginan-keinginan yang sifatnya keras. Sebagai suatu karakter atau sifat, maka sigug mungkin dapat dianalogkan dengan kata singkuh ( Bahasa Bali ) yang berarti sukar atau sulit. Karena kalau kita amati lebih seksama mengenai apa yang dikatakan orang sebagai karakter sigug, pada umumnya memiliki cirri sebagai berikut : 1 ) sukar untuk menerima pendapat orang lain. 2 ) sukar untuk memanfaatkan atas kesalahan orang lain. 3 ) sukar menerima atau mengakui keberhasilan atau kesuksesan orang lain. Tiga hal tersebut yang sangat domain dalam dalam karakter orang-orang yang dikatakan sigug. Ketika hal tersebut di atas tampaknya didasari atas benih-benih pada diri manusia seperti kemarahan, dendam, mudah tersinggung, loba, dengki, iri hati, kebinguan, atau kebodohan, kegelapan atau kemabukan terhadap sesuatu, dan lain-lain.

      Pada jaman ini juga dipenuhi dengan kemunafikan, serta orang-orang yang bersandiwara. Mereka memerankan peranan yang palsu. Orang jahat berlagak mulia, menyumbang ke sana kemari dengan menggunakan uang hasil kejahatan. Di antara sesama mereka saling menghina, dan mengatakan diri masing-masing atau kelompoknya yang paling berharga, paling pandai, atau paling terhormat.
  Sigug dalam dimensi ajaran susila adalah perwujudan dari apa yang terkandung dalam sadripu dan sapta timira. Sad ripu adalah enam macam musuh dyang bersumber dari diri masing-masing, yang terdiri dari kroda ( pemarah ), moha ( bingung, bodoh ), mada ( mabuk ), loba ( serakah ), kama ( nafsu ), dan matsarya ( iri hati ). Sedangkan sapta timira adalah tujuh macam kegelapan yang dialami manusia yakni dana ( gelap karena kekayaan ), surupa ( gelap karena memiliki rupa yang tampan atau cantik ), guna ( gelap karena memiliki kepandaian ), kulina ( gelap karena merasa keturunan bangsawan atau orang terkemuka ), yowana ( gelap karena merasa diri muda atau remaja ), sura ( gelap karena pengaruh minuman keras atau sesuatu yang memabukan ), kasuruan ( kegelapan yang ditimbulkan akibat mendapat kemenangan atau keberhasilan tertentu ).


Demikianlah karya tari Cak Bandar semoga bisa memberi apresiasi tentang karya tari kreasi baru dan bisa menjadi acuan atau refrensi bagi penata tari baru dalam berkarya tari. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar